Kalender Miladiah dan Kalender Hijriah

Abstract
Having calendar system shows a progress of a civilization. Whitout this, a nation might fall into chaos. In the Quran has a lot of preaching to us to give attention to the time, be it based on the movement of the sun (solar system), or the moon (lunar system), as well as the movement of both (luni-solar system). For example, AD calendar is a calendar based on the solar system, Hijra calendar is a calendar based on lunar system, while Jews calendar's using both lunar and solar system wich called luni-solar system. Both AD calendar and Hijra calendar have their respective functions, AD calendar could be used as a reference to various things or terms such as trades, agreements, etc. while Hijra calendar is more to islamic calendar, mostly used as prayer time setting, islamic holydays, begginning of the month etc.
Keywords: calendar, solar, lunar, luni-solar

Abstrak
Salah satu bentuk kemajuan peradaban suatu bangsa adalah memiliki sistem penanggalan.Sebuah kekacauan apabila suatu bangsa tidak memiliki sistem penanggalan.Dalam al-Quran sendiri pun telah banyak mengabarkan kepada kita untuk selalu memperhatikan waktu, baik itu berdasarkan pergerakan matahari (solar system), bulan (lunar system) maupun pergerakan keduanya (luni-solar system).Misalnya kalender yang berdasarkan sistem solar diantaranya kalender masehi, kemudian kalender yang berdasarkan sistem lunar diantaranya kalender hijriah, sedangkan kalender yang berdasarkan sistem luni-solar diantaranya kalender yahudi.Kalender masehi maupun kalender hijriah memiliki fungsinya masing-masing. Kalender masehi bisa dijadikan acuan dalam hal perjanjian ataupun transaksi-transaksi perdagangan maupun yang lainnya, sedangkan kalender hijriah lebih bersifat penetapan waktu ibadah maupun hari-hari besar umat islam.
Kata kunci : kalender, solar, lunar, luni-solar .

Pernahkah terbersit dalam benak kita mengapa matahari terbit di timur yang menyebabkan terjadinya siang dan terbenam di barat yang menyebabkan terjadinya malam atau mengapa bulan berubah-ubah bentuk dari sabit kecil hingga purnama dan kembali ke sabit kecil lagi?Mungkin untuk menjawab pertanyaan tersebut bagi kita yang hidup di zaman modern ini tidaklah terlalu sulit.Tapi bagaimana dengan pendahulu-pendahulu kita yang hidup ratusan tahun lalu bahkan ribuan tahun lalu.Orang-orang dulu pernah berpikir bahwa terbit dan terbenamnya matahari terjadi karena peredaran matahari mengelilingi bumi.Ternyata jawaban itu keliru dan salah, malah sebaliknya bumilah yang mengelilingi matahari yang menyebabkan terjadinya siang dan malam atau biasa disebut dengan rotasi bumi.
Matahari dan bulan adalah dua benda langit yang paling dekat dengan bumi dan yang paling gampang dilihat oleh mata manusia.Dari dua benda langit inilah manusia sejak zaman dulu menjadikan keduanya sebagai acuan waktu.Yang mana kita ketahui sebelum ditemukannya jam, manusia hanya menjadikan fenomena siang dan malam sebagai patokan waktu.Hingga akhirnya menjadikan pergerakan semu matahari ini sebagai pondasi dasar dalam penentuan kalender salah satunya kalender masehi yang dipakai hingga saat ini.Dan juga pergerakan semu bulan yang mengakibatkan bulan memiliki fase-fasenya dijadikan acuan dalam penentuan kalender hijriah.Bahkan penggabungan keduanya pun bisa dilakukan dalam penentuan kalender.
Salah satu pembahasan ilmu falak islam adalah penanggalan (kalender/tarikh/taqwim). Urgensi dalam tema kalender ini sangatlah penting bagi umat islam. Karena sangat berkaitan erat dengan masalah ibadah. Bagaimana kita akan memulai puasa Ramadhan kalau tidak mengetahui kapan masuknya bulan Ramadhan dan ibadah-ibadah lainnya yang mana semua harus dilakukan sesuai pada tempat dan waktunya. Yang akan kami bahas disini perbandingan antara kalender masehi dan kalender hijriah dari tinjauan sejarah kemunculan dan metodologi dalam penerapannya. Sebenarnya setiap bangsa yang berperadaban masing-masing memiliki sistem penanggalan, misalnya bangsa mesir, romawi, yunani, china, jawa, dll.

Pembahasan 
Sejarah Perkembangan
•Kalender Masehi

Cikal bakal munculnya kalender Masehidimulai sejak abad ke-VII SM (lebih tepatnya pada tanggal 21 april 753 SM),  kaisar Romawi pertama sekaligus pendiri kota Roma yaitu Romulus mulai memperkenalkan yang  namanya penanggalan (kalender).Kalender ini disebut juga dengan kalender Romawi Kuno. Awalnya, Bangsa Romawi menggunakan sistem kalender warisan bangsa Albania,  namun kalender yang berdasarkan bintang Sirius  ini tidak akurat dan menimbulkan banyak kekacauan pada perayaan-perayaan keagamaan, sehingga kaisar Romawi memerintahkan para Astronom untuk menata ulang kalender dengan memperhatikan gerak Matahari dan Bulan. Penanggalan pada masa kaisar Romulus ini  hanya mempunyai 10 bulan dengan 304 hari dalam satu tahun. Bulan Maret sebagai bulan awal, 10 bulan itu adalah: 

1. Martius (artinya mars atau dewa perang)
2. Aprilis (artinya aprilia atau dewi cinta)
3. Maius (artinya maya atau dewi kesuburan)
4. Junius (artinya juno atau istri dewa jupiter)
5. Quintilis (artinya kelima)
6. Sextilis (artinya keenam)
7. Septalis (artinya ketujuh)
8. Octolis (artinya kedelapan)
9. Novelis (artinya kesembilan)
10. December (artinya kesepuluh)

Namun dalam perjalanan sejarah kalender Romawi Kuno ini terdapat banyak koreksi dan penyempurnaan sistem kalender.Pada masa kaisar kedua Romawi yaitu Numa Pompilius (715-672 SM) terjadi penambahan bulan. Jadi jumlah bulan yang sebelumnya hanya berjumlah 10 bulan dengan 304 hari dalam setahun menjadi 12 bulan dengan 355 hari dalam setahun. Pada masa kekuasaan Numa Pompilius, ia mengeluarkan beberapa keputusan-keputusan, diantaranya: 

Menetapkan atau menambahkan bulan Januari sebelum bulan Maret.
Menetapkan atau menambahkan bulan Februari setelah bulan Desember.
Mengubah jumlah hari pada setiap bulannya menjadi 29 hari dan 30 hari hingga jumlah hari setiap tahunnya menjadi 354 hari seperti pada bulan Qamariah.
Menetapkan setiap 2 tahun sekali menambahkan 22 hari dan 23 hari silih berganti, jadi setiap 4 tahun sekali bertambah 45 hari, ini menjadikan setiap tahunnya bertambah 11 ¼ hari dan total setiap tahunnya 365 ¼ hari.

Kemudian masuk pada masa kaisar Romawi yang terkenal Julius Caesar melihat banyak kerancuan sistem penanggalan romawi Kuno yang berdasarkan gerak semu matahari dan bulan tersebut. Akhirnya Julius Caesar memerintahkan para astronom untuk mengoreksi penanggalan tersebut.Atas saran Sosigenes, seorang astronom asal Alexandria, Julius Caesar menetapkan kalendemya menjadi 12 bulan, dengan masa seminggu tujuh hari sebagaimana yang telah kita ketahui. Juga ditetapkan tahun Kabisat setiap 4 tahun sekali, berdasar panjang 1 tahun Matahari adalah 365,25 hari saat itu. Penanggalan ini dinamakan penanggalan Julian dan menjadi pondasi awal kalender Masehi hingga sekarang. Dalam perjalanan kalender ini Julius Caesar menyisipkan 90 hari ke dalam kalender tradisional Romawi untuk lebih mendekati ketepatan pergantian musim. Penyisipan ini sedemikian cerobohnya sehingga bulan-bulan dalam kalender itu tidak lagi tepat dengan perhitungan siklus bulan, padahal dasar dari kalender Romawi adalah "solar".

Dengan pernyataan di atas Julius Caesar mengeluarkan maklumat penting dan berpengaruh luas hingga kini dalam penggunaan sistem Matahari dalam sistem penanggalan, adapun maklumat yang dikeluarkan oleh Julius Caesar, diantaranya: 

Membatalkan pemakaian tahun Qamariah (pada masa Numa Pompilius) dan berganti menggunakan tahun Syamsiyah (Matahari) dengan 365 hari (tahun Basitah) dan setiap 4 tahun sekali 366 hari (tahun Kabisat).
Pada tahun 708 Romawi berjalan dengan 445 hari, dinamakan dengan tahun kebingungan (year of confusion), mayoritas mereka sepakat terjadi pada tahun 46 SM.
Menetapkan permulaan kalender Julian dari bulan Januari pada tahun 709 dimulai dari kota Roma. Mayoritas mereka sepakat awal penggunaan bulan Januari sebagai awal tahun pada tahun 45 SM.
Menetapkan jumlah hari tiap bulannya 31 hari dan 30 hari silih berganti kecuali bulan Februari 29 hari pada tahun Basitah, dan 30 hari pada tahun Kabisat.

Pada tahun 44 SM, Julius Caesar mengganti nama bulan ke 5 (Quintilis) dengan menggunakan namanya Julius yang Agung.  Pada tahun 8 SM, Oktavianus Augustus pengganti Julius Caesar mengabadikan namanya sekaligus mengubah bulan ke enam (sextilis) dengan namanya Augustus yang agung. Hal ini Majlis Syurûq (Senate) menyetujuiperubahan bulan ke 6 (Sextilis) dengan Agustus yang Mulia bagi Caesar Augustus. Dan gelar ini yang didapatkan Oktavianus atas kemenangannya dari Antoniu dalam perang Actium pada tahun 31 SM. Julius Caesar mengabadikan namanya pada bulan ke 5 dengan 31 hari (ganjil). Sedangkan Caesar Augustus mengabadikan namanya pada bulan ke 6 dengan 30 hari (genap).  Kemudian Majlis Syuruq meramalkan pertanda buruk dari perhitungan (angka genap bagi kepercayaan orang Roma sebagai pertanda buruk) pasangannya (Caesar Augustus). Itulah yang menyebabkan berubahnya bulan Agustus yang awalnya 30 hari menjadi 31 hari,diambil 1 hari dari bulan Februari yang jumlanya ketika itu 29 hari sehingga menjadi hanya 28 hari saja. 

Perubahan ini berdampak pada terjadinya 3 bulan berturut-turut yang berjumlah 31 hari, dimulai dari Juli, Agustus dan September.Untuk mengobati keadaan ini maka diputuskan mulai dari bulan September 30 hari silih berganti hingga Desember 31 hari.Ini merupakan kesalahan para pendeta (biarawan) dalam pemakaian kalender ini. Sesungguhnya mereka menafsirkan penambahan hari disetiap tahun ke 4 akan menyempurnakan penambahan ini sebelum datangnya tahun ke 4. Oleh karena itu, mereka menambahkan pada bulan Februari setiap 3 tahun sekali. Dan mereka mengetahui bahwa kaisar Augustus salah sejak awal atas pemakaian kalender selama 36 tahun, sampai menyebabkan perubahan sebanyak 12 kali.Untuk memperbaiki kesalahan ini, Agustus memerintahkan untuk meneliti ulang tahun-tahun Basitah yang terdapat diantara tahun 37 sampai 48 Masehi. Hasilnya penambahan hari terjadi pada tahun 48 sebanyak 12 hari.

Julius Caesar menetapkan tahun 45 SM sebagai tahun 1 Julian yang bertepatan dengan 709 tahun setelah berdirinya kota Roma. Kemudian pada tahun 532 M seorang pendeta Rusia, Dionysius Exiguus, merubah dasar kalender ini yang disesuaikan dengan lahirnya Isa al-Masih, yaitu hari Sabtu tanggal 25 Desember tahun ke-28 masa kekaisaran Agustus menurut riwayat Clement of Alexandria. Kaisar Agustus mulai naik tahta pada tahun 727 Romawi, jadi Isa al-Masih lahir pada tanggal 25 Desember 754 Romawi, kemudian 1 januari 754 Romawi ditetapkan sebagai 1 Januari tahun 1 Julian.

Setelah diteliti lebih lanjut ternyata Dionysius tidak tepat, karena tahun 727 adalah tahun dimana kaisar Octavius mendapat gelar Agustus, sedangkan masa pemerintahannya dimulai sejak tahun 723 Romawi. Jika Isa al-Masih lahir di tahun ke-28 artinya ia lahir pada tahun 751 Romawi, berbeda 4 tahun dengan tahun yang ditetapkan oleh Dionysius. 

Jika riwayat Clement of Alexandria ini benar, maka Nabi Isa As. lahir pada tahun tersebut. Namun pada kenyataannya tidak ada bukti yang bisa membuktikan kebenaran akanhal ini. Akan tetapi kelahiran Nabi Isa As. dapat diteliti dari sejarah hidup Raja Herodos yang diriwayatkan oleh Yosefos, sejarawan Yahudi.Bahwa Nabi Isa lahir pada masa Raja Herodos, dan Raja Herodos meninggal pada tahun ke-37 saat Nabi Isa masih kanak-kanak.

Dalam injil Lukas diceritakan bahwa Isa al-Masih berumur 30 tahun ketika dibaptis oleh Yahya, bertepatan pada tahun ke-15 masa pemerintahan Raja Tiberius. Raja Tiberius bergabung dengan raja Agustus tahun 765 Romawi, jadi tahun ke-15 adalah tahun 779, dan  jika Isa al-Masih berumur 30 tahun maka ia diperkirakan lahir tahun 749 Romawi.

Dari sejarah singkat diatas dapat disimpulkan bahwa tidak ada bukti yang benar-benar menunjukkan tahun kelahiran Nabi Isa.Kesalahan yang terdapat pada kalender masehi ini tidak dikoreksi bahkan masih tetap dipercayai hingga kini.Hanya saja telah dibedakan antara tahun kelahiran Isa al-Masih dengan tahun Masehi.Jadi yang dimaksud dengan SM (sebelum masehi) adalah sebelum tahun Masehi dan bukan sebelum kelahiran Nabi Isa As. 

Walaupun terdapat beberapa kesalahan, kalender ini tetap digunakan oleh sebagian besar penduduk bumi hingga tahun 1582 M.Bahkan umat Kristen Ortodoks (gereja timur) masih menggunakannya, khususnya untuk menentukan hari Natal.Hingga akhirnya Pope Gregorius XIII melakukan modifikasi pada kalender Julian.Perbedaan kalender yang dinisbatkan kepada Pope Gregorius XIII ini hanya terletak pada perbedaan menit.Dalam 16 abad pemakaian kalender Julian, titik balik surya sudah bergeser maju sekitar 10 hari dari yang seharusnya terjadi setiap tanggal 21 Maret tiap tahun.Hal ini membuat kacaunya penentuan hari raya Paskah yang bergantung kepada daur candra dan daur surya di titik balik tersebut. Dikhawatirkan Paskah akan semakin bergeser tidak lagi jatuh di musim semi untuk belahan Bumi utara, serta semakin menjauhi peringatan hari pembebasan zaman Nabi Musa (penyeberangan laut merah).

Sejak hari pertama munculnya kalender Masehi, para biarawan gereja mendapatkan hak penuh dan bertindak sewenang-wenang (sesuka hati) dalam memutuskan penangguhan terhadap kaisar Romawi. Pada masa Pope Sixtus IVtahun 1474 M, dilakukan perbaikan kesalahan yang terdapat pada kalender Julian.Ia meminta bantuan ketika itu kepada Astronom terkenal Regiomontanus, yang akhirnya dapat menyelesaikan tugasnya dengan cepat sebelum ajal menjemputnya. Setelah itu, muncullah seorang ahli Astronom dan ahli Fisika yang terkenal bernama Ghiraldi dari Napoli yang direkomendasikan sebagai pengganti Regiomontanus untuk melanjutkan perbaikan pada kalender Julian. 

Seiring dengan berjalannya waktu, kalender Julian yang sudah tampak sempurna itu lama-lama memperlihatkan kemelesetannya juga.Apabila pada zaman Julius Caesar jatuhnya musim semi mundur hampir 3 bulan, kini musim semi justru dirasakan maju beberapa hari dari patokan. Akhirnya kemelesetan itu dapat diketahui sebab-sebabnya, kala revolusi bumi yang semula dianggap 365.25 hari, ternyata tepatnya 365 hari, 5 jam, 56 menit kurang beberapa detik, jadi ada kelebihan menghitung 4 menit setiap tahun yang makin lama makin banyak jumlanya.

1 tahun Julian lebih panjang dari rata-rata 1 tahun tropis selama 0,0078 hari (365,25 – 365,2422 = 0,0078) atau 11 menit 14 detik. Selisih tersebut dalam jangka waktu 128 tahun mencapai 23 jam 57 menit 41,76 detik atau 1 hari, dan setelah 1280 tahun kesalahan mencapai 10 hari. Kesalahan ini mengakibatkan bergesernya musim-musim dari waktu sebenarnya.Tahun ke-128 menjadi standar karena tahun tersebut memiliki sisa hari terkecil.

Penjelasan: 128 × 365,2425 = 46751,04
 128 tahun: 128 × 0,0078 × 24 = 23,9616
dibulatkan menjadi 24 jam = 1 hari

Dalam masa 400 tahun selisih tahun Julian dengan tahun tropis mencapai 3 hari, (400 × 0,0078 = 3,12) artinya setiap 400 tahun Julian harus dikurangi sebanyak 3 hari. Pengurangan ini dilakukan dengan mengubah sistem tahun kabisat.Jika suatu tahun habis dibagi 4 tetapi tidak habis dibagi 100, termasuk tahun kabisat.Contohnya, tahun 1612 1704 termasuk tahun kabisat.Jika suatu tahun habis dibagi 100, tetapi tidak habis dibagi 400, maka tahun tersebut bukan tahun kabisat.Jika habis dibagi 400, termasuk tahun kabisat. Jadi, tahun 1700 1800 1900 bukan tahun kabisat, sedangkan tahun 1600 2000 2400 termasuk tahun kabisat. 

Tahun ke-400 dijadikan standar karena pada tahun tersebut tidak memiliki sisa hari. Penjelasan: 1 tahun pendek = 365 hari = 52 minggu + 1 hari
1 tahun kabisat = 366 hari = 52 minggu + 2 hari
1 abad = 76 tahun pendek + 24 tahun kabisat 
1 abad = (76 × 1) + (24 × 2) = 124 hari
124 hari = 17 minggu + 5 hari

Jadi:  1 abad = (52 × 100) + 17 minggu + 5 hari
2 abad = (52 × 200) + 18 minggu + 3 hari
3 abad = (52 × 300) + 19 minggu + 1 hari
4 abad = (52 × 400) + 20 minggu + 0 hari

Dalam kalender Gregorian terdapat 97 tahun kabisat pada setiap 4 abad. Jadi panjang rata-rata 1 tahun Gregorian adalah 365,2425 hari atau 365 hari 5 jam 49 menit 12 detik. Sedangkan panjang tahun tropis adalah 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik. Selisihnya dalam setahun adalah 0,0003 hari atau 26 detik, yang berarti akan terjadi perbedaan 1 hari setelah ±3300 tahun, dan solusi yang terbaik untuk menanggulanginya adalah menjadikan tahun ke 4000 menjadi tahun pendek. 

Penjelasan: 1 tahun Gregorian: 365 + (97 ÷ 400) = 365,2425
1 tahun tropis : 365,2422
selisihnya : 365,2425 – 365,2422 = 0,0003 hari
0,0003 × 24 = 0,0072 jam = 25,92 detik dibulatkan menjadi 26 detik
0,0003 × 3300 = 0,99 hari

Dan sejak tahun 325 M hingga tahun 1582 M selisih mencapai 10 hari.Oleh karena itu, pada tanggal 5 Oktober 1582 kalender Julian diganti menjadi tanggal 15 Oktober 1582 Gregorian.Dan pada tanggal inilah ditetapkannya kalender Gregorian sebagai kalender gereja.Koreksi yang dilakukan pada kalender ini bertujuan untuk mengembalikan ketepatan waktu-waktu peribadatan yang telah bergeser hingga 10 hari dari yang semestinya. Pada tahun Julian 365,25 hari, maka pada tahun gregorius mencapai 365,2422 hari, jadi perbedaan antara kalender Julian dengan kalender Gregorian mencapai 0.0078 hari atau 11 menit 14 detik. Hal ini membuat tahun-tahun berikutnya kacau hingga membuat pengoreksian ulang terhadap kalender Julian.
Atas kemelesetan itu, Paus Gregious XIII pimpinan gereja Katolik di Roma pada tahun 1582 melakukan koreksi dan mengeluarkan sebuah keputusan bulat :

1. Angka tahun pada abad pergantian, yakni angka tahun yang diakhiri 2 nol, yang tidak habis dibagi 400, misal 1700, 1800 dan sebagainya, bukan lagi sebagai tahun Kabisat (catatan: jadi thn 2000 yang habis dibagi 400 adalah tahun Kabisat).
2. Untuk mengatasi keadaan darurat pada tahun 1582, diadakan pengurangan sebanyak 10 hari jatuh pada bulan Oktober. Pada bulan Oktober 1582, setelah tanggal  4 Oktober langsung ke tanggal 15 Oktober.
3. Sebagai pembaharu terakhir Paus Gregorius XIII menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun baru lagi. Berarti perhitungan biarawan Katolik (Dionysius Exiguus) tergusur seketika itu juga. Tahun baru bukan lagi tanggal 25 Desember sebagaimana yang dipahami sebagai hari kelahiran Nabi Isa As. (Yesus) yang lahir pada tanggal tersebut; dan permulaan musim semi pada tanggal 21 Maret.

Pemikiran tentang koreksi ini sebenarnya telah mulai dipergunjingkan dengan keluarnya tabel-tabel koreksi oleh gereja sejak masa Paus Pius V pada tahun 1572. Dekrit rekomendasi baru dikeluarkan oleh penggantinya, yaitu Paus Gregorius XIII, dan  disahkanlah pada tanggal 24 Februari 1582 dengan mendatangkan seorang ahli astronomi sekaligus seorang biarawan bernama Christopher Clavius. Isinya antara lain tentang koreksi daur tahun Kabisat dan pengurangan 10 hari dari kalender Julian.Sejak tahun 325 M hingga tahun 1582 M selisih mencapai 10 hari.Oleh karena itu, pada tanggal 5 Oktober 1582 kalender Julian diganti menjadi tanggal 15 Oktober 1582 Gregorian.Pada tanggal inilah ditetapkannya kalender Gregorian sebagai kalender gereja.Tanggal 5 hingga 14 Oktober 1582 tidak pernah ada dalam sejarah kalender ini.Sejak saat itu, titik balik surya bisa kembali ditandai dengan tanggal 21 Maret tiap tahun, dan tabel bulan purnama yang baru disahkan untuk menentukan perayaan Paskah di seluruh dunia.

Pada mulanya yang mengikuti keputusan paus untuk mengubah kalender sudah tentu hanyalah negara-negara Eropa yang mayoritas Katolik.Hal ini pun menimbulkan kegemparan di kalangan masyarakat awam. Banyak orang yang ketakutan seandainya usia mereka berkurang sepuluh hari, dan para pekerja menuntut upah bagi sepuluh hari yang dianggap hilang. Adapun negara-negara Protestan, Anglikan dan Ortodoks tetap memakai kalender Julian.Mereka mencurigai mungkin saja keputusan paus itu hanya taktik untuk mengembalikan otoritas Katolik Roma di bidang agama.Apalagi Paus Gregorius XIII sangat dibenci kaum Protestan, sebab memprakarsai pembunuhan massal orang Protestan pada hari Santo Bartholemeus di Paris tahun 1572.
Menjelang akhir abad ke-17, tahun 1698, seorang ilmuwan Jerman yang berwibawa saat itu, Prof. Dr. Erhard Weigel, mengirim surat kepada raja-raja Eropa yang beragama Protestan agar menerima kalender Gregorian. Weigel menegaskan bahwa pemakaian kalender itu tidaklah berarti tunduk kepada paus. Ini masalah ketepatan peredaran benda langit, kata Weigel, bukan masalah agama.

Maka pada awal abad ke-18 negara-negara Protestan menerima kalender Gregorian. Inggris negara Anglikan mulai mengikutinya pada tahun 1752, dengan menyatakan bahwa setelah tanggal 2 September 1752 langsung tanggal 14 September 1752. Hal ini juga berlaku untuk seluruh jajahan Inggris, termasuk Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada sekarang) yang saat itu belum merdeka. Akibatnya, George Washington, yang nantinya menjadi presiden pertama Amerika Serikat, terpaksa mengubah tanggal lahirnya dari 11 Februari 1732 menjadi 22 Februari 1732.

Negara-negara Eropa Timur yang menganut Kristen Ortodoks baru menerima kalender Gregorian sesudah Perang Dunia I berakhir. Rusia memberlakukannya tahun 1918 dengan menyatakan bahwa 31 Januari langsung disusul 13 Februari. Hari penghapusan kekaisaran Rusia yang berlangsung tanggal 7 November 1917 (menurut kalender Gregorian) sampai sekarang masih disebut “Revolusi Oktober”, sebab hari itu di Rusia masih berlaku kalender Julian tanggal 25 Oktober. Negara Eropa terakhir yang menerima kalender Gregorian adalah Yunani tahun 1923.

Di negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin, penyebaran kalender Gregorian dilakukan oleh negara-negara Eropa yang menjajahnya. Mesir mulai memakai kalender ini tahun 1875 pada masa Khadev Ismail. Dan secara resmi dipakai di seluruh Indonesia mulai tahun 1910 dengan berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap, hukum yang menyeragamkan seluruh rakyat Hindia Belanda. 

•Kalender Hijriah
Dimasa pra Islam, belum dikenal penomoran tahun seperti yang kita kenal saat ini, sebuah tahun ditandai dengan nama peristiwa yang terjadi, seperti “Tahun Gajah” (tahun lahirnya baginda Nabi Muhammad) karena pada waktu itu, terjadi penyerbuan Ka’bah oleh pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah. Setelah datangnya Islam, penanggalan juga senantiasa ditetapkan berdasarkan kejadian-kejadian yang ada,  dinamakanlah tahun pertama hijrahnya Nabi Muhammad sebagai tahun'idzn' (izin) yaitu tahun  diizinkannya untuk berhijrah. Tahun kedua disebut tahun 'amr' (perintah), yaitu tahun diperintahkannya untuk berperang. Tahun ketiga disebut tahun 'tamhîsh' (ujian), tahun keempat disebut tahun ‘tarfi’ah’, tahun kelima disebut tahun 'zilzâl' (gempa), tahun keenam disebut tahun 'isti'nâs' (keramahan), tahun ketujuh disebut tahun 'istiqlâb' (peleburan), tahun kedelapan disebut tahun istiwâ' (tropis), tahun kesembilan disebut tahun 'barâ'ah' (pembebasan), tahun kesepuluh disebut tahun 'wada'' (haji wada'), dan sebagainya. 

Pada awalnya penamaan tahun-tahun yang telah berlangsung lama ini tidak terdapat masalah. Hingga pada masa Khalifah Umar bin Khattab,beliau mendapat surat dari sahabat Musa Al Asy’ari, gubernur Kuffah yang isinya: 
“Sesungguhnya telah sampai kepadaku dari kamu beberapa surat-surat, akan tetapi surat-surat itu tidak ada tanggalnya”.

Setelah membaca surat tersebut terjadi sebuah kebingungan pada surattersebut  yang hanya tercantum bulan syaban tanpa diketahui bulan syaban tahun ini ataukah bulan syaban tahun kemarin. Akhirnya setelah kejadian tersebut khalifah Umar memanggil beberapa orang sahabat terkemuka guna membahas permasalahan tersebut serta mencari solusi agar tidak terulang lagi.Dengan berbagai usulan dan pendapat akhirnya rapat memutuskan dan memilih awal kalender Islam dimulai dari tahun hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Mekah ke Madinah, yang merupakan usulan dari sahabat Ali ra. Dinamakanlah kalender tersebut dengan Kalender Hijriah. Sejak saat itu, ditetapkan tahun hijrah Nabi sebagai tahun satu, (1 Muharram 1 H) bertepatan dengan (16 Juli 622 M). Dan tahun dikeluarkannya keputusan itu langsung ditetapkan sebagai tahun 17 H.

Sedangkan nama-nama bulan pada kalender hijriah tetap menggunakan nama-nama bulan yang sudah ada sejak masa pra islam dan dikenal oleh masyarakat arab saat itu. Adapun nama-nama bulan pada kalender hijriah, diantaranya:

Muharam
Bulan Muharram merupakan bulan pertama pada penanggalan Hijriah. Pada masa Jahiliah, Bulan tersebut memiliki nama bulan Safar Awal, karena saat itu terdapat dua bulan Safar. Bulan Muharram sendiri merupakan nama  dari bulan Rajab pada masa Jahiliah. Dari segi bahasa, Muharram memiliki arti pelarangan, yang mana pada bulan Muharram terdapat larangan untuk saling berperang. 

Safar
Bulan kedua dari bulan Hijriah dan juga pada zaman Jahiliah.Dari segi bahasa, Safar berasal dari kata sifat untuk warna emas, yaitu kuning.Hal tersebut dikarenakan daun-daun di dahan pohon menguning pada saat itu, karena bulan tersebut merupakan salah satu bulan pada awal musim panas. Pada bulan safarini pulalah kaum Arab kembali untuk berperang, berdagang, dan melaksanakan kegiatan mereka lainnya setelah selesainya bulan Muharram yang diharamkan didalamnya untuk berperang. 

Rabiul Awal dan Rabiul Tsani
Dua bulan tersebut merupakan bulan ketiga dan keempat dalam penanggalan Hijriah.Rabī’ berarti semi yaitu musim semi terjadi pada dua bulan tersebut.Pada zaman Jahiliah, bangsa Arab belum mengenal pembagian empat musim dalam satu tahun, sehingga mereka membagi satu tahun menjadi enam musim .Bangsa Arab pada zaman Jahiliah memberi nama bulan Rabiul Awal dengan Khowān dan bulan Rabiul Akhir dengan Basyān. 

Jumadil Awal dan Jumadil Akhir
Bulan  kelima dan keenam dari penanggalan Hijriah. Bangsa Arab pada zaman Jahiliah menyebutnya dengan bulan Jumādal Sittah dan Jumādal sab’ah dan memberi julukan untuk dua bulan tersebut dengan syaibāni atau milhāni yang berarti dua uban dan dua garam, hal itudisebabkan karena kedua bulantersebut merupakan bulan di musim dingin, karenanya, bulan tersebut diberi nama jumāda yang diambil dari kata jamad yang berarti beku. 

Rajab
Rajab merupakan bulan ketujuh dari penanggaalan Hijriah. Bangsa Arab pada zaman jahiliah memberinya nama dengan al-asyommu, sebab diberinya nama tersebut dengan diharamkannya bangsa Arab untuk berperang pada bulan-bulan tersebut. 

Sya’ban
Bulan Sya’ban merupakan bulan kedelapan dari penanggalan Hijriah. Pada zaman Jahiliah bulan ini memiliki nama‘Ādil yang berarti tidak memihak pada satu sisi.Bulan Sya’ban merupakan Bulan sapi yang disucikan dan diagungkan oleh Bangsa Sumiriyah.Ia juga merupakan Bulan Ketuhanan bagi Bangsa Babilonia. Selain ituia juga disebut bulan Tuhan Kehidupan oleh Bangsa Yunani dan Bangsa Romawi. 

Ramadan
Bulan Ramadan merupakan bulan kesembilan dari penanggalan Hijriah.Bulan ini merupakan bulan ampunan yang penuh berkah, karena dalam bulan tersebut diampuninya dosa-dosa hamba-Nya yang bertaubat.Bulan ini merupakan bulan kesabaran.Bulan Ramadan merupakan satu-satunya bulan Hijriyah yang disebut dalam ayat al-Quran. Pada zaman Jahiliah, bangsa Arab memberinya namaNātiq, dan pada riwayat lainnya Nāfiq. Ramadan diambil dari kata Ramdu, yang memiliki arti kata panas yang sangat menyengat. 

Syawal
Bulan Syawal merupakan bulan kesepuluh dalam penanggalan Hijriah. Pada masa Jahiliah, bangsa Arab memberinya nama dengan wa’il yaitu syawal. Bulan Syawal dalam penanggalan Babilonia disebut dengan bulan Abu. 

Dzulqo’dah
Bulan kesebelas dari penanggalan Hijriah. Pada masa Jahiliah bulan ini bernama Hawā’ yang memiliki makna nikmat  yang melimpah. Kata Dzulqo’dah berasal dari kata Qo’ada yang berarti duduk atau berhenti, disebut Dzulqo’dah karena pada bulan tersebut kaum Arab berhenti untuk berperang. Bulan Dzulqo’dah dan Dzulhijjah merupakan bulan untuk berdagang dan berbelanja, karena pada bulan tersebut merupakan bulan haji sehingga banyak suku-suku bangsa Arab yang berdatangan ke kota Makkah untuk berhaji, oleh karena itu banyak dari masyarakat Arab yang memanfaatkannya untuk berdagang, mereka mendirikan pasar-pasar, contoh pasar terbesar pada masa itu adalah yang terletak antara kota Makkah dan Thoif. 

Dzulhijah
Bulan terakhir dari penanggalan Hijriah. Pada masa Jahiliah, bangsa Arab memberinya namaBuraka. Bulan tersebut memiliki keutamaan tersendiri bagi bangsa Arab, hal tersebut dikarenakan pada bulan Dzulhijjah ditunaikannya ibadah haji sebagai salah satu dari rukun Islam.Pada bulan ini pula diharamkan untuk berperang. 

Landasandan Metode Penanggalan

Kalender Masehi
Penanggalantahun matahari, yang dikenal juga dengan tahun tropical (sanah al madariyah), adalah periode berakhir/berlalunya dua kedudukan di matahari dari titik hamal (i'tidal rabî'î) secara gerak semu disekitar Bumi dengan masa 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik (365,2422 hari). Seperti yang telah kami paparkan diatas kalender masehi berdasarkan pergerakan matahari atau gerak semu matahari mengelilingi bumi. Gerak semu matahari dibagi menjadi dua, diantaranya:

a. Gerak Semu Matahari Harian
Matahari memiliki gerak semu harian yang berbentuk lingkaran, disebut dengan lingkaran ekliptika, setengah lingkaran berada diatas ufuk dan sisanya dibawah ufuk. Gerak matahari akan dimulai dari titik timur (terbit) dan berakhir (tenggelam) di titik barat, titik terbit matahari dapat berubah-ubah sepanjang tahun, hal ini disebabkan oleh kemiringan poros bumi terhadap cahaya matahari akibat revolusi bumi. Oleh karena itu lingkaran ekliptika yang berada diatas ufuk dapat berubah-ubah dan waktu siang pun akan berubah sesuai dengan lingkaran tersebut. Titik terbit matahari pada musim dingin akan mendekati arah selatan, maka waktu siang pada musim dingin akan lebih pendek dibanding waktu siang pada musim panas dan begitu pula sebaliknya. 

b. Gerak Semu Matahari Tahunan
Adalah gerak semu matahari yang terlihat dari bumi setiap tahun akibat revolusi bumi. Saat bumi dan benda-benda langit lainnya bergerak mengelilingi matahari maka benda-benda tersebut akan kembali ke posisi awal relatif terhadap matahari, lain halnya dengan matahari yang selalu berubah apabila diukur dengan bintang-bintang yang tetap. Contohnya jika hari ini matahari terlihat berdekatan dengan rasi bintang Leo, esok hari matahari akan terlihat berdekatan dengan rasi bintang lainnya. 
Ada dua jenis gerak semu matahari tahunan;

1. Tahun sideris (sidereal year) adalah periode yang dibutuhkan matahari untuk berputar 360º pada lingkaran ekliptika atau periode yang dibutuhkan matahari untuk bergerak semu dimulai dari suatu titik yang tetap dan kembali kepada titik tersebut yaitu 365,2564 hari.

2. Tahun tropis (tropical year) adalah periode yang dibutuhkan matahari untuk bergerak semu mengelilingi bumi dimulai dari titik equinox 1  menuju equinox 2 dan kemudian kembali ke equinox 1 yaitu 365,2422 hari.


Perhatikan gambar diatas, pertama tahun sideris membutuhkan waktu berputar penuh 360º mengelilingi garis ekliptika (yang berwarna merah) dari titik awal sampai ketitik awal lagi dan membutuhkan waktu 365,2564 hari.Kedua, tahun tropis dimulai dari titik equinox 1 (titik vernal equinox) ke titik equinox 2 (titik autumnal equinox) sampai akhirnya kembali ke titik equinox 1 dan membutuhkan waktu 365,2422 hari.
Dari kedua tahun diatas, yang sering dipakai sebagai dasar pembuatan kalender adalah tahun tropis saja. Hal ini disebabkan karena tahun sideris tidak sesuai dengan aktivitas manusia di bumi, karena ketika matahari bergerak semu mengelilingi bumi maka ia akan memiliki kecepatan yang tidak tetap jika diukur berdasarkan bintang lainnya. 
Disamping itu bumi memiliki kemiringan 23,5º dari titik porosnya dan berakibat bumi memiliki 4 musim. Salah satu ciri kalender masehi sesuai dengan pergantian musim. Musim semi dimulai sejak tanggal 21/22 maret tiap tahunnya, musim panas dimulai sejak tanggal 20/21 juni tiap tahunnya, musim gugur dimulai sejak tanggal 22,23 september tiap tahunnya dan musim dingin dimulai sejak tanggal 21/22 desember tiap tahunnya. Lebih jelasnya silahkan perhatikan gambar dibawah ini:



Kalender Hijriah
Penanggalan bulan (qamary) adalah penanggalan yang didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi dalam orbitnya dengan masa 29 hari, 12 jam, 44 menit 3 detik (29,530589 hari)dengan kecepatan 3.700juta km/jam . Dari peredaran ini, dalam 12 bulan berarti sama dengan 354,3670694 hari (354 hari, 8 jam, 8 menit, 35 detik), yang berarti lebih sedikit dari tahun Matahari sekitar 11 hari (10 hari 21 jam). Penanggalan Bulan dimulai dari terbenamnya Matahari (setelah terjadinya konjungsi Bulan dan Matahari) yang ditandai dengan terlihatnya hilal atau dengan perhitungan (hisab). Penanggalan ini digunakan umat Islam dalam menentukan waktu-waktu ibadah terutama penetapan awal Ramadan-Syawal dan Dzulhijjah. 
Adapun dua jenis pergerakan bulan, sebagai berikut:

1. Bulan Sideris (Siderial month): periode yang dibutuhkan bulan untuk berputar 360° mengelilingi bumi, lamanya 27,321 hari.F
2. Bulan Sinodis (Synodic month): periode antara satu bulan baru dengan bulan baru lainnya, lamanya 29,53059 hari atau 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik. Ada perbedaan sekitar 2 hari dengan siderial month karena bumi juga berevolusi terhadap matahari pada arah yang sama, sehingga untuk mencapai konjungsi berikutnya memerlukan tambahan waktu.F 

Perhatikan dua gambar diatas, pertama bulan sideris adalah perputaran bulan mengelilingi bumi dari titik awal sampai ketitik awal sebelumnya sebesar 360°  (satu putaran penuh) yang membutuhkan waktu 27,321 hari. Kedua bulan sinodis adalah perputaran bulan mengelilingi bumi dari titik konjungsi  sampai ke titik konjungsi berikutnya yang membutuhkan waktu 29,53059 hari. Perputaran bulan mengelilingi bumi yang disebut juga dengan revolusi bulan mengelilingi bumi searah dengan revolusi bumi mengelilingi matahari.Disamping bulan berevolusi, bulan juga berotasi pada porosnya. Rotasi bulan dan revolusi bulan sama membutuhkan waktu 29,53059 hari. Hal ini mengakibatkan wajah bulan yang tampak ke bumi hanya sebagian saja (selalu sama tidak pernah berubah) dan mengalami perubahan bentuk bulan (fase-fase bulan), sedangkan sebagian yang lainnya tidak akan pernah kita bisa melihatnya dari bumi. Lebih jelasnya fase-fase bulan perhatikan gambar dibawah ini :

Kalender Hijriah juga memiliki tahun panjang dan tahun pendek atau biasa disebut dengan tahun kabisat (tahun panjang) dan tahun basithah (tahun pendek).Pada kalender masehi tahun kabisat itu 4 tahun sekali dan sisanya tahun basithah atau biasa disebut dengan 1 daur 4 tahun sekali. Sedangkan pada kalender hijriah 1 daurnya  selama 30 tahun, dalam 1 daur terdapat 11 kali tahun kabisat dan 19 kali tahun basithah. Pada kalender masehi satu tahunnya selama 365,25 hari, untuk menggenapkan 0,25 hari hanya dibutuhkan 4 kali putaran atau selama 4 tahun, sedangkan pada kalender hijriah satu tahunnya selama 354,3670694 hari atau 354 hari, 8 jam, 8 menit, 35 detik, untuk menggenapkan sisa hari 8 jam, 8 menit, 35 detik tersebut membutuhkan waktu paling cepat 30 tahun. Inilah letak perbedaan tahun kabisat dan tahun basithah antara kalender masehi dengan kalender hijriah. Untuk lebih jelasnya tahun kabisat dan tahun basithah pada kalender hijriah perhatikan syair bibawah ini:

كف الخليل كفه ديانه # عن كل خل حبه فصانه
Tiap huruf yang bertitik menunjukkan tahun kabisat dan huruf yang tidak bertitik menunjukkan tahun basithah. Dengan demikian, tahun-tahun kabisat terletak pada tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 15, 18, 21, 24, 26 dan 29, sedangkan sisanya adalah tahun basithah. 

Dalam hal penerapannya secara global ada 2 cara dalam menentukan awal bulan (diluar pro dan kontra) yaitu dengan cara rukyat dan hisab. Pertama rukyat hilal, secara harfiyah rukyat bermakna melihat dan memandang dengan mata.Sedangkan hilal itu sendiri secara harfiyah bermakna bulan sabit muda.Menurut pengertian syariah, rukyat hilal berarti melihat dengan mata telanjang setelah terbenamnya matahari pada hari ke-29 dari bulan yang lalu dari orang yang mengakui telah melihat hilal dan menerima kesaksiannya, kemudian memutuskan masuknya bulan baru berdasarkan kesaksian orang tersebut.Kedua hisab falak, secara harfiah, hisab bermakna perhitungan, dalam Firman Allah Swt. yang berbunyi, “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan”  .Kata falak itu sendiri berarti gerak edar (orbit) bintang-bintang. Menurut istilah hisab falak berarti ilmu yang membahas tentang keadaan bintang-bintang dilangit, atau ilmu yang mempelajari apa-apa yang ada dilangit, misalnya planet-planet, matahari, bulan dan bintang-bintang.

Simpulan
Demikian pemaparan singkat tentang sejarah singkat perkembangan kalender masehi dan kalender hijriah serta landasan dan metode penerapan keduanya.Kesimpulan dari pembahasan diatas adalah bahwa dalam sistem penanggalan kalender Masehi terdapat banyak sekali kerancuan dan kebingungan. Salah satu sebab kerancuan dan kebingungan yang terjadi adalah karena kebiasaan orang-orang yang berkuasa dan berkepentingan pada masa itu untuk merubah penanggalan sesuai dengan kebutuhan dan kehendak mereka. Tidak jauh beda dengan sstem penanggalan, bahkan kitab suci agama mereka pun bisa dirubah sesuai dengan kepentingan mereka.

Sebenarnya jika ditelaah lebih mendalam, pemakaian kalender Hijriah jauh lebih tepat dan akurat karena tidak pernah terjadi perubahan dan pergeseran sejak awal ditetapkannya dan al-Quran dapat dijadikan bukti nyata. Namun tidak semua orang dapat menyadarinya. Hanya orang-orang yang berilmulah yang dapat mengetahuinya. WalLâhu a’lamu bi al-Shawâb

Penulis: Ismail Sujono
Mahasiswa Akidah filsafat Universitas al-Azhar


Daftar Pustaka
Alquran al-Karim.
Ahmad, Abdul Aziz Bakri.2010.Mabâdi’ ‘Ilmi’l Falak al-Hadîts. Kairo: Maktabah al-Dâr al-‘Arabiyah li’l Kitâb.

Al-Dalal, Syarqawi Muhammad Shalih.t.t.Mausû‘ah ‘Ulûmi’l Falak wa’l Fadhâ’ wa’l Fîziyâ’ al-Falakiyyah. Kuwait: Mu’assasah al-Kuwait li al-Taqaddum al-‘Ilmi.

Al-Tha’I, Muhammad Basil. 2007. Ilmu Falak wa al-Taqâwîm.Beirut: Dar al-Nafais.


Al-Syeikh, Nazar Mahmud Qasim.2009.al-Ma’âyîr al-Fiqhîyah wa al-Falakîyah fî I’dâdi al-Taqâwîm al-Hijrîyah.Beirut: Darul Basyair al-Islamiyah.
Azhari, Susiknan. 2012. Kalender Islam ke Arah Integrasi Muhammadiyah-NU.Yogyakarta: Museum Astronomi Islam.
-----------------. 2007.Ilmu Falak Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Butar Butar, Arwin Juli Rakhmadi. 2010.Teori Astronomi Fikih dan Praktek.Kairo: Lembaga Penerbitan PCIM-Kairo.

Muhammad, Muhammad Fiyadh. 2003.al-Taqâwîm. Kairo: Nahdetmisr.
Musa, Ali Hasan. 1998.al-Tauqît wa al-Taqwîm. Damaskus: Daru`l Fikri.
Sulaiman, Muhammad Ahmad. 1999. Sibâhah Fadhâiyah fî Âfâqi ‘Ilmi Falak. Kuwait: al-Âjiry.
Syams, Samir. 2006.Taqâwîm. Beirut: Dar Shadir.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.