Siapakah Pelajar ?

Mendengar kata pelajar, pasti terbayang anak-anak dengan seragam putih merah, putih biru tua, putih biru benhur, putih abu-abu, putih hitam, dan beberapa corak kemeja batik serta kaos olahraga sesuai dengan sekolah, lembaga, atau pesantren tempat mereka belajar.

Lalu, siapakah sebenarnya pelajar? apakah kamu yang sekarang sedang dalam masa belajar menyadari bahwa kamu adalah pelajar? Apakah kamu betul-betul mencari ilmu karena sadar sebagai pelajar, karena disuruh orang tua atau sekedar menyelesaikan masa belajar di setiap jenjang pendidikan yang ada? Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut mari kita lihat siapa sebenarnya pelajar.

Dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas “pelajar” dari pendekatan etimologis. Yaitu definisi tentang asal-usul kata serta perubahan dalam bentuk dan makna. Bukan pendekatan terminologis atau definisi istilah. Dan pelajar yang dibahas disini dalam konteks islami atau pelajar muslim.

Definisi Pelajar dalam Bahasa Indonesia?
Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) pelajar adalahanak sekolah (terutama pd sekolah dasar dan sekolah lanjutan); anak didik; murid; siswa. Berasal dari akar kata ‘ajar’ artinya petunjuk yg diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut).

Belajar memiliki beberapa arti: 1. berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; 2. Berlatih; 3. berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Mempelajari artinya belajar (sesuatu) dengan sungguh-sungguh; mendalami (sesuatu). Kata lain yang memiliki makna sama dengan pelajar adalah murid dan Siswa. [1]

Definisi Pelajar dalam Bahasa Arab?
Dalam Bahasa Arab ada banyak istilah yang menjadi padanan kata ‘pelajar’. Agar tulisan ini tidak terlalu panjang maka penulis hanya akan membahas empat macam saja, yaitu: Tilmidz (تلميذ), Muta’allim (متعلم), Daris (دارس), dan Tholib atau Tholibul ilmi ( طالب).

Makna kalimat Tilmidz.

Makna تلميذ menurut Ibnul Mandzur dalam kitab Lisanul Arab artinya ‘pembantu’ atau ‘pengikut’ ( تلمذ: التلاميذُ: الخَدَمُ والأَتباع، واحدهم تِلْميذٌ ). Az-Zubaidi dalam kitab Tajul ‘Arus juga menyebutkan makna yang sama bahwa tilmidz adalah pelajar atau pembantu khusus bagi seorang guru ( أَن المُرَاد مِنْهُ المتعلّم، أَو الْخَادِم الخاصّ للمعلِّم ). [2]

Tilmidz adalah istilah yang digunakan untuk pelajar pada jenjang dasar sampai menengah. Pada jenjang tersebut pelajar biasanya sangat tergantung pada guru yang mengajar. Mengikuti apa yang mereka ajarkan dan apa yang mereka arahkan, sehingga disebut sebagai pengikut.

Dalam hal ini, ada syahid (bukti) bahwa suatu ketika Khalifah Harun Al-Rasyid melihat anak-nya sedang menuangkan air untuk gurunya ketika berwudhu. Khalifah menegur guru tersebut, “Kenapa engkau tidak suruh dia untuk menuangkan air dengan satu tanganya dan mencuci kakimu dengan tangannya yang lain.” [3]

Maka, titik tekan dari tilmidz adalah guru menjadi teladan dalam semua aspek terutama akhlak dan pelajar berusaha meneladani semua hal-hal positif yang dicontohkan oleh guru. Jadi, lebih menitik beratkan pada akhlak (amal praktis) dibanding pemberian materi (teoritis).



Makna kalimat Muta’allim.

Muta’allim berasal dari akar kata ‘alima (عَلِمَ) yang darinya muncul istilah ilmu (عِلْمٌ), dan ta’allama (تَعَلَّمَ) yang menjadi asal istilah muta’allim (مُتَعَلِّمٌ) . Az-Zubaidi dalam kitab Tajul ‘Arus mengutip pendapat Ar-Raghib Al-Asbahani bahwa ilmu artinya ‘mengetahui sesuat dengan sebenar-benarnya’ (إدْراكُ الشَّيءِ بِحَقيقَتِه ).

Ilmu terbagi dua; Teoritis, bisa sempurna dengan pengetahuan saja seperti pengetahuan tentang adanya alam semesta. Dan Praktis, tidak sempurna kecuali setelah dipraktekan, seperti ilmu tentang ibadah (shalat, zakat, dll.).

Ar-Raghib menyebutkan bahwa ta’lim (pengajaran) secara spesifik (khusus) membutuhkan pengulangan (تكرير) dan pengayaan (تكثير) sehingga penghasilkan efek (pengaruh) bagi muta’allim. Dari pendapat tersebut bisa difahami bahwa esensi (titik tekan) dari muta’allim adalah usaha untuk mempelajari ilmu dengan pengulangan dan pengayaan sehingga menguasai ilmu tersebut dengan sebenar-benarnya.

Makna kalimat daris.

Daris (دارس) berasal dari kata darasa (درس) artinya membaca (قرأ) (kitab/buku) dengan berulang-ulang sehingga mudah untuk dihafal. Dari darasa muncul tiga istilah yang sangat populer, yaitu; ad-dars (pelajaran), al-mudarris (guru) dan al-madrasah (sekolah).

Ad-Dars, sejumlah ilmu yang dipelajari pada waktu tertentu (المقدار من الْعلم يدرس فِي وَقت مَا). Al-Madrasah, tempat belajar dan mengajar (مَكَان الدَّرْس والتعليم). Al-Mudarris, laki-laki yang banyak belajar, banyak membaca dengan menulis dan selalu mengulang-ngulang pelajaran atau bacaannya (الرَّجُلُ الكَثِيرُ الدَّرْسِ، أَي التِّلاَوَةِ بالكِتَابة والمُكَرِّر لَهُ). (lihat Tajul ‘Arus dan Mu’jam Wasith). [4] [5] Untuk lebih memahami makna darasa bisa dipelajari dua ayat berikut:

{وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ} [آل عمران: 79[

Artinya: “Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.”

{أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ} [القلم: 37]

Artinya: “Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya?.”

Makna kalimat tholib.

Tholib berasal dari akar kata tholaba. Ibnul Mandzur dalam Lisanul Arab menyebutkan beberapa makna dari akar kata (طلب) . Makna-makna tersebut menggelitik hati penulis karena berhubungan erat dengan kondisi pelajar saat ini. Berikut adalah beberapa makna tersbut:

Pertama: الطَّلَبُ (ath-tholabu) : مُحاوَلَةُ وِجْدانِ الشَّيءِ وأَخْذِهArtinya : usaha untuk menemukan sesuatu dan mengambilnya.

Kedua: طَلَبَ (tholaba) :   رَغِبَArtinya : Menyukai

Ketiga: الطِّلْبَةُ (ath-thilbah) : مَا كَانَ لكَ عِنْدَ آخرَ مِنْ حَقٍّ تُطالِبه بِهِ Artinya : Anda memiliki suatu hak pada orang lain yang harus diambil/dituntut.

Keempat: التَّطَلُّبُ (ath-tathollub) : الطَّلَبُ مَرَّةً بَعْدَ أُخرى و طَلَبٌ فِي مُهْلة مِنْ مَوَاضِعَ Artinya : mencari berulang-ulang atau mencari di beberapa tempat.

Kelima: الطَّلِبَةُ (ath-tholibah) : الحاجةُ Artinya : kebutuhan, hajat(need).

Keenam: إِطْلابُ (ithlab) : إِنجازُها وقضاؤُهاArtinya : menyediakan dan melaksanakan.

Mari kita bahas lebih dalam makna-makna kata ‘tholib’ diatas sehingga bisa difahami menjadi satu kesatuan makna.

Pertama: At-tholabu, usaha untuk menemukan sesuatu.

Pelajar harus memiliki semangat mencari sampai menemukan apa yang ia cari. Bukan sekedar menunggu disuapi, terutama mereka yang sudah berada disekolah menengah atas atau di kelas yang lebih tinggi. Berusaha untuk mengerti apa yang dipelajari, memahami yang sulit dan bertanya sampai kesulitan tersebut teratasi.

Dari semangat ‘untuk menemukan sesuatu’ inilah banyak pelajar muslim (kemudian menjadi ulama) yang menjadi pakar pada bidangnya, bahkan pakar dalam beeberapa bidang sekaligus. Dari tangan mereka lahir mahakarya berupa kitab-kitab yang jumlah tiap kitabnya bisa belasan jilid tebal.

Hampir semua disiplin ilmu ditemukan (atau didesain ulang) oleh para ulama (dulunya ‘pelajar’) muslim. Ilmuan barat hadir menyempurnakan dan memodifikasi karya-karya tersebut (plus mengklaimnya) ketika pelajar-pelajar muslim generasi selanjutnya tidak lagi memahami esensi at-tholabu (usaha untuk menemukan sesuatu). Minimal menghasilkan sesuatu sesuai kafa`ah (kemampuan) masing-masing (dalam hal ini ‘profesi guru dan pelajar’) seperti (contoh sederhana) menulis satu artikel yang bermanfaat.



Kedua: Tholaba: roghiba, Menyukai

Suka adalah modal utama dalam belajar. Kalau tidak suka pada suatu materi/pelajaran mustahil pelajar akan mengeluarkan segenap usaha untuk bisa menguasai materi tersebut. Jadi, syarat pertama adalah sukai semua materi, jangan ada yang di anak tirikan. Faham atau tidak faham, berapa persen pemahaman yang didapat itu masalah lain. Yang pasti jangan sampai ada materi yang tidak disukai.

Tidak suka sama dengan tidak mau belajar. Tidak mau belajar berarti tidak mau peduli. Apa yang terjadi pada materi yang tidak dipedulikan? Tidur, main, mengganggu orang, mencari kesibukan sendiri, atau mungkin keluar dari kelas dan mencari kegiatan lain diluar. Kegiatan yang dilakukan diluar kelas pada jam pelajaran pasti bukan sesuatu yang positif! Pada titik ekstrim, pelajaran yang tidak disukai hanya akan diperjuangkan agar tidak rosib sehingga tidak menjadi killing point.

Mayoritas pelajar tidak suka dengan matematika. Kenapa bisa begitu? Karena sejak awal sudah tidak suka dengan matematika. Ketika seseorang tidak suka dengan sesuatu, tidak akan ada ketertarikan untuk mengenal hal tersebut.

Padahal, jika di awal matematika dianggap sama dengan pelajaran lain, bisa jadi kamu menguasai matematika. Pelajaran yang sulit akan bisa dikuasai dengan usaha keras dan kontinyu. Tapi ketika rasa tidak suka sudah mendominasi maka tidak akan ada usaha yang dilakukan untuk menguasainya. Jadi, sukai lebih dulu, mampu atau tidak, menguasai atau tidak itu adalah hasil usaha yang nanti menentukannya.

Dalam Muqadimah buku At-Tarbiyah wat-ta’lim fid-duwal al-islamiyah khilalal-qorn 14 minat-tab’iyah ilal-asholah, Hamd Bakr Al-‘Ulyani menulis, “Kita harus memperhatikan bahwa seorang pelajar bukan sekedar pemilik ijazah. Akan tetapi ia adalah seorang pembawa ilmu yang dengannya ia akan menjadi lebih unggul dibandingkan orang lain. Ijazah adalah bukti bahwa ia memiliki ilmu dan saksi bahwa dirinya telah menguasai ilmu tersebut.

Dari sini, tampak jelas bahwa belajar bukan sekedar mendapatkan pengetahuan (talaqqi al-ma’lumat) tetapi juga menyebarkan ilmu tersebut dengan metode yang benar dan mendidik menusia dengannya.” [6]

Ketiga: At-thilbah, Menuntut hak

Kata طلب yang disebut oleh Ibnu Mandzur diatas memiliki makna “Memiliki suatu hak pada orang lain yang harus diambil/dituntut.” Itu artinya, ilmu ibarat milik kita yang belum kembali. Hikmah yang terserak. Harus diambil dan dimiliki. Jika tidak diambil berarti sama dengan membiarkan barang berharga (milik pribadi) terbuang dengan percuma.

Jika masalah materi, kedudukan, prestise dan hak-hak lainnya begitu dipermasalahkan dan dituntut, maka ilmu sejatinya menjadi hak paling utama yang harus dituntut dan dimiliki.

Keempat: ath-tathollub, mencari berulang-ulang dan mencari di beberapa tempat

            Kemampuan otak manusia sungguh luar biasa, diantara keistimewaan otak adalah daya ingat yang menakjubkan. Otak tidak pernah overload, tidak pernah kekurangan kafasitas, tidak pernah bertanya apakah informasi yang baru kita dapat harus disimpan (save) atau dibiarkan hilang. Tidak seperti komputer yang selalu bertanya setiap terjadi input baru baik berupa gambar, angka, hurup, suara, dan data masuk lainya.

            Otak seperti live streaming, tapi semua hasil streaming-nya tersimpan dalam hardisk yang tidak memiliki batas kafasitas, diatas jutaan terabyte. Hampir tidak ada kalimat “Low disc space on brain!” seperti yang terjadi pada hardisk “Low disc space on drive …!”. Keunggulan lainnya, proses penyimpanan informasi dan data baru ke otak sebagian besar tidak disadari oleh manusia, kecuali hasil proses belajar formal yang dilakukan dengan kesadaran penuh.

Nothing perfect (tidak ada yang sempurna). Maka, diantara kehebatan otak tersebut masih ada batasan-batasan diluar kesempurnaan. Diantara hal tersebut adalah ‘kemampuan mengingat’. Ada perbedaan signifikan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Penyebab perbedaan kemampuan mengingat bisa bermacam-macam. Penyakit, keterbelakangan mental, gizi buruk, kekerasan fisik, gangguan psikhis, usia tua, dan sebab-sebab lainnya.

Dalam belajar, semua kelebihan dan kekurangan harus proporsional (pada tempatnya). Bahkan, kalau bisa kelebihan harus meningkat dan kekurangan harus menyusut. Maka, pengulangan          (at-tikror/repeat) adalah salah satu strategi belajar yang termasuk salah satu makna dari kata ‘tholaba’ dalam Bahasa Arab.

Itu artinya, seorang pelajar harus memahami dengan baik kemampuan otaknya dalam mengingat. Jika ia memiliki kadar ingatan seperti Imam Al-Bukhori dan Imam Syafi’i atau para ulama lain yang bisa hafal dengan beberapa kali membaca, silahkan abaikan judul ini. Tapi, jika termasuk pemilik kadar mengingat standar bahkan minimum, maka jadikanlah pengulangan sebagai salah satu kunci keberhasilan dalam belajar.

Ada pepatah yang mengatakan, “As-sabqu harfun wat-tikroru alfun.” Belajar satu huruf, mengulang seribu kali. Artinya ilmu yang dipelajari akan menempel dengan kuat saat mengalami pengulangan yang banyak dan kontinyu. Pepatah lain yang mengatakan “Fil i’adah ifadah.” (didalam pengulangan ada pemberian manfaat).

Silahkan perhatikan para penghafal Al-Qur`an, mereka selalu menjaga pengulangan hafalan dengan kontinyu. Ada yang rajin murojaah (mengulang) per lembar, per juz atau sesuai kemampuan dan jadwal masing-masing. Ada yang mengulang dengan membaca ayat-ayat tersebut saat shalat wajib atau shalat tahajud, ada yang berkelompok seorang mengulang dan yang lain memperhatikan dan memperbaiki kesalahan. Semua dalam rangka pengulangan.

Ternyata, Rasulullah Saw. sangat memperhatikan masalah pengulangan ini. Sehingga beliau sering kali mengulang-ngulang ucapanya sampai tiga kali agar bisa ditangkap dan dipahami oleh pendengar. Terutama dalam hal-hal yang memiliki tingkat urgensi tinggi. Silahkan perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari; إِذَا سَلَّمَ سَلَّمَ ثَلاَثًا، وَإِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلاَثًا (Rasulullah Saw. jika mengucapkan salam ia mengulanginya sampai tiga kali, jika menyampaikan suatu kalimat ia mengulanginya sampai tiga kali). [7]

Mencari di beberapa tempat artinya jangan cukup dengan apa yang kamu pelajari sekarang. Yang sekarang kamu pelajari adalah kunci dasar, tangga nada yang harus disempurnakan sehingga menjadi irama yang harmoni.

Jika sekarang kamu belajar dua jilid buku fiqih karya Imam Zarkasyi (rahimahullah) maka ada kitab-kitab lain yang siap untuk kamu telaah; Al-Mabsuth (karya Muhammad bin hasan Asy-Syaibani 5 jilid, atau karya As-Sarkhosi 30 jilid, madzhab hanafi). Al-Mudawwanah (karya Imam Malik, madzhab mailki) atau yang sudah kamu kenal Bidayatul-Mujtahid. Al-Umm (karya Imam As-Syafi’i) atau yang sudah kamu kenal Kifayatul-akhyar, fathul mu’in dan I’anatut-tholibin. Al-Mughni (karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, madzhab hanbali. Atau yang membahas empat madzhab sekaligus seperti Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah (karya Abdurrahman Al-Jazairi). Begitu juga ilmu-ilmu lainnya seperti tauhid, tafsir, hadits, siroh, tarikh, dst.

Bukan hanya mencari dari beberapa sumber materi (kitab), tapi juga mencari beberapa guru dan mencari dari berbagai kota dan dan negara serta pusat-pusat ilmu lainya. Jika proses ini kamu lakukan maka akan ada pencapaian fenomenal yang kamu dapatkan yaitu kematangan ilmu, kematangan berfikir, kematangan beramal, kematangan beribadah, kematangan ruhiah. Sungguh benar sabda Rasululullah; man yuridillah bihi khoiron yufaqqihu fid-din.[H.R. Bukhari]

Kelima: ath-tholibah; al-haajah, kebutuhan (need)

            Ilmu sejatinya adalah kebutuhan. Statusnya sama seperti makanan untuk menghilangkan lapar, udara untuk bernapas, dan air untuk menghilangkan dahaga. Ilmu bukan sekedar alat yang digunakan untuk mencapai tujuan spesifik; mendapat harta, mendapat jabatan, mendapat penghormatan, mendapat pengakuan, dan tujuan tendensius (keinginan tersembunyi) lainnya.

            Ilmu adalah kebutuhan mendasar yang harus dimiliki setiap manusia. Seperti pondasi yang menopang bangunan dan tiang yang menyangga beban. jika manusia tidak menjadikan ilmu sebagai kebutuhan, maka ibarat bangunan yang didirikan diatas pondasi yang rapuh. Tidak akan mampu menahan beban bangunan apalagi menahan terpaan angin dan hantaman badai. Padahal, tantangan dalam hidup sangat kompleks, bukan sekedar menahan angin dan badai, tapi juga menahan tuntutan hidup dan membingkai keinginan hawa nafsu.

            Kenyataan di lapangan menyebutkan bahwa segala sesuatu yang tidak didasari dengan ilmu hanya berakhir dengan kegagalan, bahkan tidak sedikit yang berakhir dengan kehancuran. Maka, sungguh Allah Swt. maha benar dan maha tahu atas desain yang ia bangun di alam ini. Sehingga Firman-Nya yang pertama adalah perintah untuk berilmu dengan perantaraan membaca. (Al-‘Alaq: 1-5)

Maka, kamu sebagai pelajar harus menjadikan ilmu sebagai kebutuhan, bukan sekedar alat untuk mencapai suatu tujuan. Jika kamu menjadikan ilmu sebagai kebutuhan, maka ilmu yang kamu dapat akan bersenyawa dengan dirimu. Menjadi energi dan pendorong kearah kemajuan dan pencapaian prestasi. Seperti gula atau garam yang larut di dalam air, seperti hujan yang meresap ke dalam tanah. Seperti udara yang kamu hirup, seperti makanan yang kamu makan dan seperti minuman yang kamu minum. Menyatu dengan aliran darah, daging dan tulang. Mengiringi desah nafas baik dalam tidur maupun terjaga. Inilah salah satu rahasia kenapa setan tidak mau mengganggu saat disitu terdapat orang berilmu walaupun ia dalam keadaan tidur.

Keenam : ithlab, Pelaksanaan (amal)

Pelaksanaan atau amal adalah puncak dari ilmu. Berilmu berarti beramal. sehebat apapun ilmu yang kamu miliki, setinggi apapun strata dan prestasi yang kamu raih, jika tanpa amal tentu semua hanya sia-sia, membuang waktu, energi dan umur. Dengan demikian, ilmu apapun yang kamu pelajari kemudian kamu kuasai harus bermanfaat dan bernilai ibadah. Sebab, ilmu adalah salah satu penyebab terbukanya hidayah, bukan alat untuk menyesatkan diri sendiri apa lagi menyesatkan orang lain.

Jika semua pemilik ilmu melaksanakan semua ilmu yang mereka miliki sesuai dengan arahan agama, maka akan muncul Qur`an-Quran yang berjalan di atas bumi. Pada masa sahabat, mereka mempelajari ayat-ayat al-Qur`an secara bertahap, sepuluh ayat-sepuluh ayat, dipelajari dan dipahami kemudian diamalkan. Setelah, itu baru mempelajari ayat-ayat selanjutnya. Tak heran jika generasi para sahabat adalah generasi terbaik, prototype (model percontohan) yang harus kita teladani.

Kesimpulan

Walaupun hanya dari pendekatan etimologis minus terminologis, mari kita satukan semua makna pelajar diatas (berbahasa indonesia dan arab) menjadi satu kesatuan, pelajar adalah orang yang mempelajari ilmu dengan meneladani guru, membaca dan mengulang-ngulang pelajaran, mencari dari berbagai tempat dan sumber, menjadikan ilmunya bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.

Jika penulis boleh menyimpulkan dengan mengacu kepada sistem pendidikan yang ada sekarang, Tilmidz lebih pas untuk jenjang TK-SD, dengan menguatkan pondasi akidah, akhlak dan ibadah dengan amalan praktis. Muta’allim dan Daris untuk jenjang SLTP-SLTA, dengan mempersiapkan mutunul ‘ulum (teks-teks pelajaran), mempelajari kompetensi dasar dari setiap ilmu. Tholib untuk jenjang sarjana dan pasca sarjana, memahami ilmu sebagai aplikasi yang harus menyebabkan pemiliknya semakin tunduk tawadhu, menghasilkanan kemajuan berfikir dan berperilaku.

Tentu saja kesimpulan tersebut tidak bersifat mutlak. Sebab, santri-santri di pesantren sangat memungkinkan untuk melakukan semuanya melewati batas jenjang-jenjang pendidikan, karena tersedianya fasilitas dan lingkungan yang kondusif. Bahkan, para pelajar muslim tempo dulu tidak mengenal istilah jenjang pendidikan tapi mereka bisa sukses. Begitu juga mereka-mereka yang belajar autodidak bisa berhasil dan tidak kalah kualitasnya dengan mereka yang belajar formal.

Bangsa ini memiliki banyak orang pintar, tapi kenapa tidak menjadi solusi? Sebab, pintar minus akhlak belum menjadi solusi atas semua kompleksitas hidup. Manizdada ilman wa lam yazdad minallohi hudan lam yazdad illa bu’dan (barang siapa bertambah ilmu namun tidak bertambah hidayah (keimanan), tidak akan bertambah baginya kecuali semakin jauh dari Allah Swt.). Pelajar muslim harus berdiri di posisi ini, hadir sebagai problem solving (pemecahan masalah).

Penutup

Penulis berharap, setelah membaca artikel ini, setiap pelajar memahami siapa sebenarnya pelajar, apa tugas pelajar dan bagaimana seharusnya menjadi seorang pelajar. jika semua itu difahami akan tercipta satu generasi rabbani yang menjadi pewaris para nabi yang menjadikan islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Amin.

Referensi:

1. KBBI Offline, http://www.ebsoft.web.id

2. Lisanul ‘Arab, Ibnul Mandzur, juz 3, hal. 478, Daar Shodir, Beirut, cet. 3, 1414 H.

3. Ta’lim Muta’allim, Syeikh Az-Zarnuji,

4. Tajul ‘Arus min Jawahiril Qomus, Az-Zubaidi, Darul Hidayah, juz 9, hal. 380.

5. المعجم الوسيط (1/ 279)

التربية والتعليم فى الدول الاسلامية خلال القرن 14 من التبعية الى الأصالة – حمد بكرالعليان، دارالأنصار،قاهرة، 8
7. Shahih Bukhari, 1/30

8. Pencarian referensi dibantu Maktabah Syamilah versi resmi 1, update versi 3.48

1 komentar:

  1. You really actually make it seem so easy with your presentation but I find this topic matter to be really actually something which that I think I would never understand.It seems too complicated complex and very extremely broad for me.I am I'm looking forward for your next post,I will I'll try to get the hang of it!

    Ben Hur Full Movie Download

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.