PCINU Sukses Adakan Dialog Kebangsaan bersama K.H Said Aqil Siradj


“Diatas Budaya dan Tanah Air yang Kokoh Dibangun Syi’ar dan Dakwah Islam”

Kairo – Pada Rabu (1/3) PCINU Mesir sukses adakan Dialog Kebangsaan bertemakan “Peran Ulama Nusantara Dalam Peradaban Dunia” dan launching sistem wakaf sekretariat PCINU Mesir bersama K.H Said Aqil Siradj, ketua umum Pengurus Besar Nahdotul Ulama (PBNU).

Acara ini diselenggarakan di Aula fakulatas Lugoh al-‘Arobiyyah Universitas al-Azhar, Kairo.
Sebelumnya, Kyai Said baru saja menghadiri muktamar yang diorganisir oleh al-Azhar dan majelis hukam yang teridiri dari para cendikiawan islam se-dunia membahas masalah yang terkait isu kebebasan, kewargaan, kebhinekaaan dan integrasi masyarakat. Dalam sambutannya, bapak Helmy Fauzi, Duta Besar Republik Indonesia mengatakan, “Yang mereka bahas ini adalah apa-apa yang sudah selesai dibahas NU puluhan tahun lalu. Dan diundangnya Pak kyai said merupakan pengakuan dari timur tengah akan kontribusi umat islam di Indonesia dalam pemikiran dan perannya”.

Dalam pembahasannya, Kyai Said sangat detail dalam memetakan sejarah umat islam, mulai dari sejarah hijrah Nabi Muhammad ke Kota Yatsrib hingga sejarah masuknya Islam di Nusantara. Yang membuat para hadirin lebih tercengang adalah, bahwasanya beliau begitu hafal semua nasab dan silsilah dan menyebutkannya satu persatu, baik dari ulama Nusantara yang datang maupun raja-raja yang berkuasa sebelum islam serta keturunannya. beliau mengatakan, “Kalau ingin mempelajari islam di Nusantara, ya kalian harus tau yang seperti ini”.

Beliau juga mengatakan bahwasanya para ulama menyebarkan islam di Nusantara melalui ajaran-ajaran yang disatukan dengan budaya setempat. Mereka yang tadinya tidak boleh menyentuh kitab suci, masih dikotak-kotakkan dalam kasta masyarakat, dan masih dalam sekat jeratan animisme budaya, diubah sedikit demi sedikit oleh para ulama. Yang mana pada akhirnya timbul ketertarikan dan berbondong-bondonglah rakyat Nusantara masuk islam.

“Lihatlah bagimana wali songo berhasil menyebarkan islam hanya dalam kurun 50 tahun. Melahrkan para ulama-ulama hebat yang berhasil menggabungkan antara Islam dan budaya. Bukan hanya mempersatukan, bahkan budaya dijadikan insfratuktur daripada agama dari memperkuat budaya. Diatas budaya-budaya yang kuat dibangun syiar-syiar islam, seperti dibangunnya masjid, pesantren yang dibangun karena kecintaan kita kepada tanah air”, tegas Kyai Said.

Selanjutya pada tahun 1914, K.H. Hasyim Asyari mempunyai angenda besar, yaitu menggabungkan antara islam dan nasionalis. “Islam tanpa nasionalisme tidak akan kuat, dan nasionalise tanpa islam akat terlihat kering seperti ideologi liberal dan sekuler”, ujar Kyai Said. Maka lahirlah jargon masyhur yang dicetuskan oleh K.H Hasyim Asyari berbunyi “Hubb al-Waton min al-Iiman”.


Di akhir, Kyai Said berpesan agar para mahasiswa terus tekun dalam belajar dan bersungguh-sungguh menuntut ilmu disini dan tidak lupa terhadap budaya tanah air. “Ambilah semua ilmu yang ada disini. Dan kelak jangan sampai melupakan tanah air kita semua, bahkan sampai melupakan budaya budaya yang ada di Indonesia, seperti sopan santun, bersikap ramah, saling memberi, rukun, damai dan lainnya”, tutup beliau/ Bana Fatahillah

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.