PPMI Mesir Kenalkan Pemetaaan Keilmuan Islam dan Manhaj al-‘Ilmi Bersama Dr. Musthafa Ridha


Doc : Syekh Musthafa Ridha, Syekh Ihab Yunus dan Moderator Acara 


                Lewat karya monumentalnya, “Al-Turûq al-Manhajiyyah fî Tahṣîl al-‘Ulûm al-Ṣar’iyyah”, pada Ahad (29/10) Syekh Musthafa Ridha Al-Azhari, penulis buku tersebut mengulas tuntas akan konsep manhaj al-‘ilmi, yakni manhaj yang dipakai oleh al-Azhar sepanjang zamannya berserta pemetaan ilmu syariah di hadapan Mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir). Agenda yang berlangsung di Solah Kamil, Hay Sadis, ini dihadiri oleh mayoritas mahasiswa baru, beberapa pelajar tingkat atas, Presiden PPMI dan Wapres, juga Syekh Ihab Yunus, salah satu munsyid kebanggan milik al-Azhar saat ini. 

Diawal pemaparannya, Syekh Musthafa menjelaskan makna “turuq” dengan sebuah permisalan mudah. Menurutnya, turuq ialah ibarat peta yang menuntun perjalanan seseorang ketika menyusuri perjalanan darat, air ataupun udara. Jika  tidak mempunyai peta, maka seseorang  tidak akan tau kemana ia pergi. Begitupun para magister yang ingin memulai penulisan tesis, tentu yang pertama dilakukan adalah membuat khiṭṭah (outline). “Maka sebagai pelajar kita membutuhkan sebuah peta yang dapat menemani kita semua dalam rihlah ilmiyyah, yakni saat kita belajar, yang mana itu adalah manhaj”, bukanya.

“Adapun Manhaj, Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah mengartikan sebagai jalan yang jelas (al-Tharîq al-Wâdih). Perbedaan manhaj dan minhaj adalah, bahwasanya manhaj hanya sebatas jalan yang jelas, namun jika jalan tersebut dilalui oleh berbagai orang maka disebut minhaj. (walâkin idzâ salaka bihi al-Nâsu fahuwa al-Minhaj)... dan manhaj Azhar ialah bangunan yang tersusun atas tiga pondasi, yakni Akidah, Syariah dan Akhlaq, sebagaimana yang termaktub pada hadis Jibril”, lanjut Syekh Musthafa.

Selanjutnya Syekh Musthafa menjelaskan perbedaan antara Ilmu dan maklumat yang menjadi inti dari pembahasan manhaj al-‘Ilmi. Menurutnya, ilmu ialah yang berupa metodologi dan piranti (manhaj wa adawât), adapun ma’lumat ia merupakan bacaan atau pengetahuan sepintas (qira`ah min hunâ ila hunâka). “Lihatlah Ibnu Abbas Ra. (ṣâhib al-‘Ilmi) ketika menjawab pertanyaan Nafi Ibnul Azraq (ṣâhib al-ma’lûmât) akan kisah Hud-hud yang dapat mengetahui air dibawah tanah... Ibnu Abbas menjawab : apabila datang kehendak, maka mata akan dibutakan dan tidak ada kekhawatiran (Idzâ ja`a al-Qadr, ‘amiya al-Baṣar, wa dzahaba al-Hadzr), yang mana merupakan sebuah kaidah ilmu”, tegasnya.

Doc : Penyampaian Materi oleh Syekh Musthafa Ridha


Penulis kitab “Riwayatu Sayyidina” tersebut menjelaskan pemetaan ilmu, sebagaimana ketetapan Allah yang tercantum di al-Quran, bahwa ilmu syariah terbagi menjadi dua; ilmu maqashid dan ilmu wasail. Bagian pertama mencangkup hukum-hukum kepercayaan (i’tiqâdiyyah), seperti ilmu akidah, lalu pekerjaan (amaliyyah), seperti ilmu fiqih dan yang terakhir tabiat (wijdâniyyah), seperti ilmu tasawuf. Ia menjelaskan bahwasanya hukum dalam al-Quran tidak lepas dari tiga ini; perintah untuk mengesakan Allah Swt., beribadah kepada-Nya, dan pensucian diri atau tazkiyât al-Nafs.  
               
  Adapun yang kedua, yaitu ilmu wâsail, atau ilmu yang mengantarkan kita pada pemahaman hukum dan tujuan tersebut. Menurut penulis buku Sayyiduna tersebut, ilmu wâsail dapat kita bedakan menjadi empat. Ada yang memperkokoh keabsahan lisan, seperti ilmu nahwu, ketajaman dalam berfikir, seperti ilmu mantiq, ketelitian dalam suatu kepercayaan, seperti ilmu mustolahul hadis, dan intisari pada kesimpulan sebuah dalil syariah, layaknya ushul fikih.
             

          Ia juga menjelaskan apa-apa yang menjadi asas atau rukun dari sebuah ilmu, yaitu murid (thâlib), guru (ustâdz), buku (kitâb), metodologi pembelajaran (manhajiyyat al-Ta’allum), dan lingkungan belajar (al-bîah al-‘Ilmiyyah). Dalam penjelasan tentang belajar dengan guru, beliau menegaskan betapa pentingnya belajar dengan guru, sebagai sebuah sanad. “al-Ulūm al-Shar’iyyah mabniyyun ‘alâ al-Musyâfahah wa al-Talaqqî” (Ilmu-ilmu syariah haruslah didasari dengan dialog dan talaqqi bersama para guru)”, tegas beliau.

Doc : Presiden dan Wapres PPMI bersama Syekh Musthafa Ridha dan Syekh Ihab Yunus
Sebelum mengakhiri materinya, ia mengingatkan para pelajar untuk ingat pada tingkatannya (mustawâ) dalam belajar; pemula (al-Mubtadi`în) pertengahan (al-Mutawassit) lalu tertinggi (al-Muntahî). Ia menasehati agar para pelajar untuk memulai dengan buku-buku atau pelajaran yang dikhususkan untuk para mubtadiin, sehingga nantinya tidak salah jalan dan dapat samapai pada tujuan yang diinginkan, sebagaimana Imam Ghazali menulis al-Wajîz, al-Wasît dan al-Wasîṭ.

Syekh Musthafa menutup nadwah ilmiyyah ini dengan kutipan Imam Syafii yang mengatakan “Aku mendapatkan dari para ulama sufi akan dua hal penting ; (i) waktu ibarat pedang, jika kau tak menggunakannya dengan baik, maka kau akan terbunuh dengannya (al-Waqtu ka al-Syayfi in lam taqṭa’hu qata’aka) (ii) jika kamu tidak menyibukkan diri dengan hal yang baik, maka kau akan disibukkan dengan hal yang buruk (in lam tasytagil nafsaka bi al-Khairi syagalatka bi al-Syarri).


Rep/Red : Bana    

Doc : Para panitia acara bersama Syekh Musthafa Ridha
            


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.