Catatan Presiden PPMI Mesir Terhadap Kasus Penahanan 5 Mahasiswa Indonesia di Mesir


(Disampaikan Secara Umum Saat Audiensi PPMI Mesir Bersama Duta Besar Republik Indonesia Be untuk Republik Arab Mesir Bersama Jajaran, Selasa 5 Desember 2017)

Permasalahan penangkapan mahasiswa Indonesia di Mesir oleh aparat kepolisian Mesir  ini terus terjadi dan berulang-ulang, sepertinya belum ada langkah antisipasi dan penanganan yang efektif. Sehingga kita hanya menerima keputusan deportasi dan keputusan bebas tanpa dapat melakukan intervensi sedikitpun.

Bapak dan ibu yang dihormati. Para pelajar Indonesia, baik yang telah dibebaskan,  dideportasi, ataupun yang masih ditahan hingga saat ini, bukanlah para pelaku atau perencana kejahatan besar seperti pembunuhan atau peledakkan ataupun makar. Bahkan mereka tidak terlibat dengan kejahatan walau sedikit pun. Maka kawan-kawan ini tidak berhak mendapatkan penahanan walau sedetik pun secara tidak manusiawi yang sangat tidak sesuai untuk abad 21 ini.

Jika saya membahas kasus-kasus deportasi yang terjadi pada bulan-bulan yang telah lalu, tentulah panjang sekali pembicaraan kita pada hari ini. Namun cukuplah yang lalu sebagai sebuah I’tibar. Saat ini saya hanya ingin memfokuskan kepada 5 rekan kami yang ditahan. 2 telah dibebaskan di hari pertama. 2 mendapat putusan deportasi pada tanggal 30 November lalu dan satu masih mendekam di kantor kepolisian Qism Tsani, Kota Nasr, Kairo.

Bapak dan ibu saya ingin bertanya kemanakah bapak dan ibu semua yang ada disini di hari pertama, hari kedua dan hari ketiga pengangkapan mahasiswa kita. Sama sekali saya tidak dapat melihat bapak dan ibu, tidak pada peristiwa ini dan tidak pula dalam sebuah musibah besar yang terjadi sebelumnya. 

Aneh dan lucu, justru kami PPMI Mesir yang sibuk mengurusi rekan-rekan kami, apa karena kami organisasi Induk Mahasiswa, maka tugas ini menjadi tugas kami. Salah besar, ini adalah tugas bapak dan ibu, saya melakukan ini karena dorongan hati nurani.

Kemana bapak dan ibu sehingga harus kami yang mengambil paspor rekan kami yang saat itu berada di Konsuler KBRI Kairo? Bahkan hanya untuk mengambil paspor mereka, kami harus berhubungan dengan tiga orang staf bapak. Kenapa tidak tiga staf bapak itu saja yang menguruskan.

Kami pun tetap ke Konsuler untuk mengambil paspor rekan kami setelah dioper kesana-sini. Setelah kami dapatkan paspor rekan kami,  kami berkoordinasi dengan bapak dan ibu agar bapak dan ibulah yang menguruskan hal ini, tidak masalah kami yang membawakan dokumen mereka ke kantor polisi. Tapi ternyata tidak ada bapak dan ibu di sana. Walaupun kami telah meminta. Akhirnya usaha kami malam itu sia-sia karena kami tidak diperkenankan masuk menyerahkan dokumen rekan kami, karena kami hanya mahasiswa bukan diplomat seperti bapak dan ibu.

Kami pun datang ke kantor kepolisian pada malam penangkapan itu (22/11) setelah memberanikan diri, karena visa saya, akan habis dalam 2 hari kedepan pada tanggal itu. Padahal saat ini sering terjadi penangkapan terkait izin tinggal, bisa saja saya dipantau setelah polisi melihat izin tinggal saya berakhir setelah dua hari. Namun kami datang, kami beranikan diri kami, karena kami tidak rela rekan kami ditahan walau semenit pun di dalam tahanan padahal tak ada kesalahan yang mereka perbuat.

Kami pun berkoordinasi lagi dengan bapak dan ibu, jawaban yang kami terima malam itu justru kami disuruh untuk menghubungi National Security. Kenapa bukan bapak dan ibu saja yang menghubungi, apa urusan kami dengan National Security. Namun akhirnya kami menyanggupinya. Karena kami melihat kebebasan kawan kami secepat mungkin adalah prioritas, sedang ini tugas siapa kami kesampingkan. Kami berusaha melobi kepada National Security agar bisa bertemu dan menyerahkan kelengkapan dokumen izin tinggal, namun kami tidak bisa melakukannya pada malam itu dan disuruh datang untuk menyerahkannya keesokan harinya pada tanggal 23 november.

Berkoordinasilah kami dengan bapak dan ibu, akhirnya malah kami yang disuruh datang lagi. Sebenernya sebarapa sibukkah KBRI Kairo sampai PPMI Mesir yang harus mengurusi tugas bapak dan ibu.

Lucunya, bapak pun tidak tahu rekan kami ditahan dimana. Bapak dan ibu Baru tahu di hari ke-tiga itupun setelah PPMI Mesir terus menerus melakukan pencarian dan bukan bapak dan ibu yang melakukan pencarian ini. Akhirnya PPMI Mesir yang memberi tahu bapak dan ibu. Bukan kah ini terbalik. Seberapa sibuk bapak dan ibu. Tidak kah iba rekan kami ditahan, dimana ditahan saja bapak dan ibu tidak tahu?

Sekarang saya ingin bertanya kepada bapak dan ibu, Adakah yang memegang paspor rekan kami, Fitrah dan Ardinal, di hari pertama? Di hari kedua? Di hari ketiga? Mengapa? karena bapak dan ibu tidak hadir dalam kasus ini, berlepas tangan. Paspor itu berada bersama kami, kami yang mengambil paspor itu, membawa ke kantor polisi, membawa ke National Security. Sedang bapak dan ibu, kami tidak tahu apa yang bapak dan ibu perbuat.

Saya sampaikan kepada bapak dan ibu di National Security hanya kami, (Presiden PPMI Mesir beserta Sekjend) yang hadir, padahal visa kami, presiden ppmi tersisa satu hari lagi, tapi kami tetap maju, kawan kami yang kami prioritaskan. Tidak ada bapak dan ibu disana. Mengapa?

Tugas siapakah mendatangi kantor polisi? Tugas siapakah mendatangi National Security? Lalu dimana tugas KBRI Kairo sebagai perwakilan pemerintah Indonesia dan perwalian. Dimanakah tugas KBRI Cairo untuk menjaga keamanan warganya. Jelas-jelas di depan mata ada warga yang tertahan. Tidak ada upaya maksimal yang dilakukan.

Meminjam ungkapan yang digunakan oleh Sekjend kami, apakah rekan-rekan kami hanya bilangan angka dan secarik nama di hadapan bapak dan ibu dan bukan jiwa yang harus diperjuangkan. Salah besar, sedetik yang mereka lalui dalam tahanan adalah sebuah penderitaan.

Bapak dan ibu, kembali saya sampaikan, rekan kami bukanlah pelaku tindak kejahatan pembunuhan, pengeboman, makar terhadap negara ataupun sejenisnya, bahkan rekan kami tidak melakukan tindak kriminal walau sedikit pun.

Kasihan sekali mereka terkena image yang buruk atas sesuatu yang tidak mereka lakukan sama sekali. Bagaimana perasaan keluarga mereka saat ini.

Naif sekali poin nomor satu dan nomor dua dalam press release yang KBRI Kairo keluarkan. Seakan sudah begitu mantapnya usaha yang bapak dan ibu lakukan.

Ataukah apa yang telah saya sampaikan semua salah? Karena kami PPMI Mesir tidak pernah lepas mengunjunginya, kami yang memantau dari awal. Atau adakah memang disini yang sudah berkunjung ke anak anak ini selain Bapak Amin Samad, dan tolong beritahukan kepada saya tanggal berapa. Karena sejak tanggal 22 rekan kami di tahan hingga tanggal 4 Desember bapak dan ibu hanya satu kali berkunjung. Itupun masuk bersama kami, di jam besuk biasa.

Kami ingin tahu apa yang telah bapak dan ibu lakukan pada hari pertama kedua dan ketiga.

Untuk itu ada beberapa permintaan yang ingin kami sampaikan pada kesempatan ini.
1. Bapak dan ibu bisa menjamin kemanan warga Indonesia di Mesir
2. Melakukan upaya semaksimal mungkin dalam rangka pembebasan rekan kami yang hingga saat ini masih ditahan
3. Andai terjadi kembali hal seperti ini kami memohon dengan segala hormat agar bapak Dubes yang menangani langsung dan tidak mengandalkan prosedural yang ada
4. Semakin meningkatkan hubungan diplomatik dengan otoritas keamanan di Mesir
5. Agar diadakan pertemuan dengan mahasiswa Indonesia di Mesir
6. Memohon agar bapak Dubes berkenan membantu kami dengan mengeluarkan surat keterangan yang bisa dipegang saat mahasiswa sedang dalam proses pengurusan visa. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.